Dengan langkah tergesa aku bergegas menuju warung mak Piah, ternyata benar saja, disana ada si Jono yang sedang asik ngopi sambil menghisap Djarum, maklum diantara temen-temenku yang lain, dialah yang paling bermodal, si Jono adalah mahasiswa yang berbadan tambun asal Pasuruan yang nyasar kuliah di Malang, selain dia anak pejabat setempat dia juga terkenal dengan joke-joke nya yang segar hingga teman-temanku memberi julukan “Kartolo” kepadanya.
“Jon, aku minta gorengannya satu” pintaku sambil mengambil menjes
“yo wis,njupuk’o dewe, Dul, arep nangendhi awakmu?” dengan dialek jawa medoknya
“aku mau berangkat ke kampus, ada kuliah nanti jam 7” jawabku
“awakmu iki piye to, moso arep nang kampus ora adhus sek, yo pantes ae, wis semester limo ora payu-payu”
Tanpa mempedulikan ocehan si Jono, aku bergegas lari menuju kampus, karena jam diponselku menunjukan angka 6.35, sedangkan perjalanan ke kampusku dengan angkot saja membutuhkan waktu 30 menit, belum lagi kalau angkotnya kosong dan terpaksa ngetem dulu di pangkalan. “huh.. alamat jadi satpam kelas”. Tapi bila ditempuh dengan menggunakan sepeda motor, waktu yang ditempuh hanya separuhnya.
Aku pun terus memutar otak bagamaina caranya agar bisa sampai kampus tepat waktu dan tidak disangka, ketika aku hendak keluar warung Mak Piah, dari kejauhan ku lihat Zuki sedang menaiki sepeda motornya, tanpa ragu aku pun berteriak “Zuk, aku ikut nebeng ke kampus yo”. Zuki pun melambaikan tangannya, tanpa pikir panjang aku bergegas ke arah Zuki. ”wah asik, hari ini aku bisa hemat Rp. 2000” gumamku dalam hati.
Zuki ini adalah teman sekampusku, mahasiswa asal Blitar yang dikaruniai wajah rupawan dan berkulit bersih, tetapi walau begitu dia tidak pernah sekalipun berani menduakan pacarnya padahal di luar sana banyak perempuan yang antri kepedanya, “klo aku jadi dia, mungkin dalam sebulan aku bisa ganti pacar 3 sampai 4 kali” protesku dalam hati.
Oia ada yang lupa, sebelumnya perkenalkan dulu namaku; Abdullah Omen gymnastiar, nama ini pemberian kedua orang tuaku, namun teman-temanku punya panggilan lain untuk memanggilku: ada yang panggil aku Adul, Omen bahkan ada juga yang memanggil aku Jomblo, untuk nama yang terakhir tadi, itu dikarenakan hingga semester lima ini, aku masih belum punya pacar, “maksudnya belum ada yang beruntung dapetin aku” belaku dalam hati.
Aku adalah mahasiswa rantau dari salah satu kota kecil di bagian barat pulau Jawa yang kebetulan nyasar kuliah disini kota ngalam (red Malang), memang diantara sekian temanku ada yang sempat heran juga dan bertanya, “lapo kuliah adhoh-adhoh nyang Malang, di Jakarta atau Bandung kan akeh”, ini pertanyaan yang paling membosankan untuk di jawab, sebenarnya aku pun tidak terlalu paham kenapa dulu mau kuliah disini. Lantas kujawab “ya, kepingin aja, biar bisa bahasa Jawa dan makan bakso Malang terus tiap har, hehehheh,,,”.
Inilah secuil rutinitasku, mahasiswa rantau yang terdampar. Di kota ini aku numpang disalah satu pesantren beken miliknya KH. Kholilullah, seorang kiyai terkenal di Indonesia. Maklum, karena nebeng di pesantren, aku pun punya kegiatan yang sangat padat, dari mulai bagun tidur jam 4 pagi kemudian dilanjutkan dengan dirosah agama sampai jam 6 pagi, setelah itu pergi ke kampus dan setelah pulang dari kampus aku ditunggu berjama’ah dan dirosah magrib sampai waktu isya, belum lagi bila ditambah dengan tugas kelompok, penelitian dan lainnya. ”huh, mana ada waktu buat mikirin yang lain” protesku.
Namun karena rutinitas inilah aku terlatih untuk mengatur waktu, ada pepatah yang mengatakan “possible things is usual, usual is forced” itu kalau bahasa orang bulenya, ala bisa karena biasa, ala biasa karena dipaksa. Kata-kata ini pertama kali kudengar dari seorang guru bahasa Inggrisku yang juga pamanku, sewaktu sekolah dulu.
***************
No comments:
Post a Comment