Selepas keluar dari ruangan kelas mata kuliah PKn, hatiku luar biasa bahagianya, bunga-bunga yang dulu layu kini telah mekar kembali, begitu wangi dan indah!, sunguh pesona yang tak tergambarkan selama ini, ya selama aku menyandang status sendiriku sebagai mahasiswa rantau yang terdampar. Perasaan itu hilang sejak tahun lalu, ketika seseorang yang ku cintai pergi begitu saja; cinta SMA yang bertahan 2 tahun 7 bulan itu kini tinggal kenangan, tak ada yang mau disalahkan; karena ruang dan waktu yang mungkin sudah tidak memungkinkan.
Hingga suatu ketika seorang teman sekamarku, yang bernama Zakaria –mahasiswa asal banyuwangi- yang menjulukiku ”the crying baby”, namun pada detik ini duniaku telah berubah, 180 derajat!.
Sesampainya di lantai nanggung –antara lantai 3 dan 4 -, aku bertemu Paijo mahasiswa asal Mataram, Nusa Tenggara yang sejak di kelas tadi sudah ku SMS.
”Jo, kamu kuliah khan hari ini?” Begitu isi SMSku
”iya, aku kuliah Grammar hari ini, ada apa Dul?” jawab Paijo
”kita ketemu di lantai nanggung terus pulangnya kita lewat jembatan gantung” sambungku.
”okeh dech”. Balasnya singkat.
Kami bertemu di lantai itu, lantai naggung yang ramai, begitu banyak mahasiswa berkumpul disini, ada yang memang sedang mengerjakan tugas kuliahnya, sebagian lagi ada yang nunggu giliran kuliah dan ada juga yang memang sedang ” cuci mata”, memang benar di lantai ini banyak sekali mahasiswa yang masih ”terasa segar”, mungkin karena masih pagi.
”jo, aku tadi kenalan sama cewek cantik!” aku mencoba memecahkan suasana
”walah bener ta, Dul?” tanyanya sambil melototkan kedua matanya ke arahku
”iyalah, tadi ketemu di kelas PKn, dia adik tingkat kita” sambungku
”emang kamu udah berani kenalan sama cewek ta?” kembali dia mengintrogasi
”hahahah, tadi aku juga di kenalin Indro, kebetulan dia juga ngulang PKn” sambungku
”Owh, pantes! Klo kamu sendiri, ku yakin kamu gak bakal berani” tanyanya sambil menbetulkan letak kacamatanya
”sialan kau, jo!” gumamku
”emang siapa namanya, Dul?” kembali mahasiswa setengah gaul ini bertanya.
”hahahah, penasaran juga rupanya, namanya Dian Ayu Maharani, dia mahasiswi asal Mojokerto, dia manis, berkulit putih dan berkacamata” jelasku, dan Paijo pun semakin penasaran.
”wah boleh tuh sesekali kenalin aku!” pintanya
”weh enak aja!, makannya jangan mocking aku mahasiswa gak bermoral dung, nah sekarang baru keliatan berkahnya”. Protesku
”iya deh, sekarang kita jalankan misi kita di jembatan gantung, mumpung masih pagi” ajaknya, sambil berdiri menyandang tas bututnya.
”ayo... !” jawabku
Dan kami pun berjalan menuju lokasi ”eksekusi” jembatan gantung, seperti hari-hari sebelumnya, kami memang tergolong mahasiswa yang agak jail karena hampir setiap kali pulang kuliah, kami sengaja bermain di tempat ini, mengoyang-goyangkan jembatan yang terbentang di pinggrian sungai Berantas yang menghubungkan jalan kampung menuju kampus hingga suatu ketika kelakuan kami di laporkan seorang mahasiswi kepada seorang dosen karena dia ketakutan dan ngompol dicelana, dan kami pun di hukum untuk membersihkan toilet kampus yang berjumlah 18 toilet.
Setelah menjalankan ”tugas” kami tadi, kami pun bergegas pulang atau lebih tepatnya kabur karena kami kepergok satpam kampus, numun akhirnya kami berhasil lari dari kejaran satpam gendut itu.
”huh lega!, untung bisa lari, coba klo ketangkep kayak kemaren, bisa-bisa tugas cleaning service selama seminggu kita yang ngerjain” tukasku sambil berlari menuju pelatan ”si mobil biru” atau angkot.
”iya Dul, AlhamDulillah kita selamet” sambung Paijo yang banyak mengeluarkan keringat.
Ketika kami menuju pelataran si mobil biru, tiba-tiba ada motor yang menghampiriku, dengan ramah dia mengajakku bareng.
”woi Dul, arep mulih ta?, ayo bareng karo aku” ajak Azim –mahasiswa hukum asal Sidoarjo, yang kebetulan tinggal satu atap bareng aku, pastinya di pesantren Al-Ghozali, Azim ini adalah anak juragan beras di kotanya, pernah waktu itu aku bertandang ke rumahnya, hampir tiap 2 jam sekali aku ditawari makan, maklumlah anak juragan beras.
” Zim, wah kebetulan dung, tapi aku gak bawa helm” jawabku
”nih kebetulan ku bawa 2, tadi kebetulan pulang nganter mbak ku” jelasnya
”Okeh deh” tukasku
” Jo, aku pulang Duluan, assalamua’alaikum” pamitku kepada Paijo
”oyi, wa’alaikum salam” jawabnya
Di perjalanan menuju pondok, aku bergumam dalam hati ”wah senengnya hari ini, aku bisa hemat uang gocengku”.
No comments:
Post a Comment