”Zuk, kamu nanti kuliah sampai jam berapa?”
”kuliahku sih cuma siji, tapi mari kuliah aku arep jemput adikku”
”adikmu yang mana?, emang adikmu kuliah disini juga ta?
”heheheh, dudu, tapi adik ketemu gede”.
”oalah, ku kira adik kandungmu”
”lho, awakmu yo opo,Dul? Wis duwe pacar ta?”
“belum zuk, masih seleksi”
“ealah, ket biyen kok seleksi thok, kapan entu ne”
”klo aku prinsipnya, koleksi-seleksi-resepsi”
”mari ngono reproduksi yo”
”hahahha, bisa aja kamu, zuk”
Akhirnya kami sampai di kampus tercinta, tepatnya di belakang kampus karena jalur yang kami lalui memang berada di belakang kampus, jalur yang sangat aman untuk pengendara motor yang tidak memakai helm.
”oke Zuk, terima kasih ya!”
”yo podo-podo”
”lain kali aku numpang lagi, yuk aku kuliah dulu, Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikum salam” jawabnya.
Hari ini adalah minggu kedua aku ngulang mata kuliah PKn (Pendidikan Kewarganegaraan), mata kuliah ini sebenarnya sudah aku ambil sewaktu semester II, namun waktu ini aku cuma dapat nilai C, ini bukan gara-gara aku jarang masuk, melainkan pada waktu itu, aku berselisih pendapat dengan dosenku.
”anak-anak, apa pendapatmu tentang euthanasia atau suntuk mati?” tanya dosen.
“saya rasa boleh-boleh saja, pak” jawabku
“alasannya?”
“bila si pasien dipaksakan terus untuk hidup sednagkan beban keluarga semakin besar, lebih baik dipakai cara tersebut untuk meringankan beban keluarga si pasien”
“wah, memangnya kamu yang punya nyawa, seenaknya saja membunuh orang?” sanggah dosen tersebut sambil memutar-mutar pulpen Boxy-nya.
“ini pendapat saya, saya pikir lebih baik memberikan peluang untuk yang lainnya untuk hidup daripada menutup kesempatan rapat-rapat diantara keduanya” jawabku dengan tenang, dari kejauhan kuamati teman-teman kelasku nampak tidak setuju akan pendapatku ini.
“hidup dan rezeki itu milik Tuhan, kita Cuma butuh untuk menjaganya, ada baiknya kamu mengulang mata kuliah ini di semester depan kalau masih berpendapat tak bermoral seperti itu” kata-kata dosen itu meluncur deras di telingaku tanpa sempat aku menyampaikan pendapatku lagi.
Nah sejak itulah banyak temanku yang ngeledek aku ”huh, dasar mahasiswa gak bermoral, masa PKn aja dapet C”, tapi ocehan itu aku anggap sebagai angin lalu maklum guyon ala teman-temanku emang seperti itu tadi.
Sesampainya di kelas ternyata dosennya sudah datang, dan ketika aku terlambat, -ini gara-gara waktu dibonceng tadi, ban motor Zuki kempes dan kami pun terpaksa nunggu dulu selama 15 menit- namun kejadian pagi ini sungguh sangat indah karena aku terlambat bareng dengan adik kelasku, ”parasnya cantik!”
”ayo mas, silakan duluan!” pintanya
”waduh, mas juga deg-degan nih” jawabku
Lalu akupun memberanikan diri untuk mengetuk pintu, tentunya dengan jantung yang kembang-kempis”
”tok..tok..tok... assalamu’alaikum”
”oia, silakan masuk mas!” jawab dosenku
Akhirnya akupun bisa mengikuti kuliah pagi ini, untuk memperbaiki nilaiku yang C dan sebagai upaya untuk memperbaiki citraku yang di anggap ”tak bermoral”, sewaktu aku mengikuti kuliah, aku berbisik kepada temanku Indro, yang kebetulan sama-sama tidak bermoralnya –Indro ini adalah mahasiswa asal Banyuwangi-.
”ndro, cewek yang bareng masuk sama aku tadi, cantik ya” bisikku
”yo jelaslah, ancene die bunga kelas iki”
”emang kamu udah kenal?
”yo wislah”
”ndro, bantu aku buat kenalan sama dia donk”
”yo, emang awakmu ora wani ta?”
”heheheh, gak berani”
”yo wis engko mari kuliah ku bantu”
”alhamDulillah”
Dan aku pun dapat mengikuti kuliah dengan tenang tapi deg-degan, karena setelah keluar kuliah nanti aku bakal kenalan sama cewek tadi. Setelah kuliah selesai, Indro menyuruhku untuk keluar duluan dan nunggu di pintu sampai dia keluar.
”heh Dul, iki lho areke” kata Indro
“hai, hmmmmmmm….. namamu siapa?” tanyaku dengan deg-degan
”namaku Dian, mas” jawabnya.
Dan setelah itu, aku pun salah tingkah.
***************************
petuah malu
petuah malu
hanya milikku saja,
hasrat menggebu
memanah sebentuk hati
untuk di dekati
tapi petuah malu
tak kuasa lepaskan segala
No comments:
Post a Comment